Jalan Legian Bali Jadi Ikonik Wisata Pagi Dini Hari

Jalan Legian Bali - Humaedi Jamil

Jalan-jalan ke Bali itu seperti belajar hidup di luar negeri. Sepanjang jalan hampir sebagian besar isinya turis, orang lokal cuma ada di toko-toko atau restauran sebagai pegawainya. Makannya, orang lokal Bali lebih ramah dengan wisatawan mancanegara dibandingkan wisatawan domestik.

Banyaknya turis yang datang ke Bali membuat Bali harus menciptakan kota seperti di luar negeri, ya untuk membuat turis-turis itu nyaman di Bali. Itu kenapa Jalan Legian Bali menjadi pusat hiburan untuk turis-turis tersebut. Sebenarnya saya juga bimbang setengah mati mau menuliskan perjalanan saya ketika di Bali tentang Legian—tapi alhamdulillah sampe sekarang masih hidup sih.

Diskotik Vs Pasar Malem

Diskotik Ada di Sepanjang Jalan Legian Bali. Foto: hosttrip.id
Diskotik Ada di Sepanjang Jalan Legian Bali. Foto: hosttrip.id

Saya yang berasal dari kampung dan hidup di Jakarta baru lima tahun rasanya kaget melihat kehidupan malam di Jalan Legian Bali. Sepanjang jalan isinya diskotik, Bro, di kampung liat lampu kelap kelip kalau pas ada pasar malem doang. Di depan diskotik banyak cewek-cewek yang bajunya kurang bahan menari-nari, berpurat-putar disorotin lampu, di kampung kalau ada orgen dangdut doang baru ada biduan goyang.

Monumen Bom Bali

Monumen Bom Bali yang Berdiri di Titik Tengah Jalan Legian Bali. Foto: Motor Matic Bali
Monumen Bom Bali yang Berdiri di Titik Tengah Jalan Legian Bali. Foto: Motor Matic Bali

Awalnya saya ingin melihat Monumen Bom Bali yang amat bersejarah. Masih ingat kan sama bom Bali yang terjadi 12 Oktober 2012 silam? Di tempat inilah bom itu terjadi. Monumen tersebut berdiri di pusat Jalan Legian, di mana sepanjang jalan tersebut berderet diskotik, cafe, dan bar serta hampir semua tempat tersebut dipenuhi dengan turis.

Di sinilah Bali hidup. Jalan Legian tidak pernah sepi karena banyak restauran, hotel, dan toko oleh-oleh. Namun, Jalan Legian ini akan hidup ketika tengah malam tiba sampai pagi dini hari. Saat saya mengunjunginya, saya tidak melihat toko oleh-oleh karena diskotik lebih dominan di sana. Mungkin jika saya datang siang, saya akan melihat pernak-pernik khas Bali yang unik-unik. Saya hanya punya waktu malam hari jadi mau tidak mau saya harus menyempatkan diri mengunjunginya.

Kehidupan Malam Legian

Kehidupan Malam di Jalan Legian Bali. Foto: Penginapan.net
Kehidupan Malam di Jalan Legian Bali. Foto: Penginapan.net

Menyusuri Legian sepanjang jalan membuat kaki tidak merasa pegal, apalagi mengantuk. Saya bisa jalan santai dan mata terus melek melihat pemandangan-pemandangan yang bagi saya sangat krusial. Bagaimana tidak, yang biasanya saya hanya melihat botol air mineral di warung-warung, kini saya melihat wiskey, bir, anggur merah dari berbagai macam merk. Apalagi botol-botolnya unik-unik dan cocok untuk hiasan bufet di rumah, rasanya pengen saya bawa pulang itu botol-botol buat dipajang di kamar.

Semakin menjelang pagi dini hari semakin banyak bule mabok berkeliaran di jalanan. Bule yang dramatik sampe guling-guling setelah naik Sky Garden juga ada. Apa itu Sky Garden? Jadi roof top bar yang memiliki view menarik dari atas, lalu ada wahana seperti bianglala dihiasi lampu-lampu yang cukup menarik perhatian orang.

Penjagaan yang Ketat

Semakin Malam, Penjagaan di Monumen Bom Bali Diperketat Oleh Polisi. Foto: Metrobali.com
Semakin Malam, Penjagaan di Monumen Bom Bali Diperketat Oleh Polisi. Foto: Metrobali.com

Di area monumen bom Bali cukup ketat penjagaannya. Polisi banyak yang berjaga di Jalan Legian. Beginilah Bali, legalitas untuk hiburan malam mungkin sudah diterapkan oleh pemerintahan di sana. Hebatnya, tradisi Bali itu sendiri tetap hidup dan tidak tergeser oleh budaya Barat. Pertunjukan Tari Kecak masih terus laku keras hingga turis rela menonton berdiri karena tidak kebagian kursi. Legian tak jadi masalah selagi turis masih kerap berkunjung untuk menikmati budaya dan seni di Bali.

Comments

    1. Post
      Author
  1. Fadli Hafizulhaq

    Waktu saya ke Bali pernah lewat sini, benar-benar bikin saya harus banyak nunduk. Banyak godaan dunia,

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
      Prajna Vita

      Iya. Seperti saya ini yg datang dari kampung ya kaget liat kelap kelipnya diskotik di sepanjang jalan. Lah wong kalau di kampung main malem nya ke pasar malem doang, haha

  2. Citra

    Wah, jadi kangen Bali…. Jalan di Legian itu menyenangkan tetapi menginap di lokasi Legian no way hihi susah banget nyari taxi karena macetnya luar biasa….

    1. Post
      Author
      Prajna Vita

      Iya betul. Sepertinya macetnya bisa sampe subuh karena bule bule kembali ke penginapan biasanya subuh. Kalau pagi lewat Jalan Legian, sepertinya sudah kelihatan mana toko oleh oleh nya

  3. hani

    Beberapa tahun yl pernah ke Bali menginap di Legian. Engga betah, berisik yah. Jedag jedug, kedengeran suara lagu dari diskotek. Baru tahu lho, Titik Nol, kalau malam dijaga polisi.
    Kalau menginap di Sanur sepi sih.

    1. Post
      Author
      Prajna Vita

      Iya. Saya juga milih penginapan deket Kuta. Meski jauh kalau ke Legian, tapi tetep aja pengen liat titik nol Bali ini

  4. Nur Husna Annisa

    Udah 7 tahun berlalu dan Legian masih dijaga. Semoga ga ada lagi kejadian pengeboman di seluruh jagat Indonesia. Saya lihat fotonya udah kayak kehidupan malam di luar negeri aja ya

    1. Post
      Author
      Prajna Vita

      Iya. Thats why, menurut saya, traveling ke Bali itu seperti traveling ke luar negeri. Dan semoga Bali tetap aman. Aamiin

  5. Supadilah

    Tentu ada pertimbangan kenapa bule begitu bebas di sana. Faktor PAD salah satunya. He…he… Metropolis banget ya. Keren tulisannya mbak. Saya ngimpi ke sana. Hehe ..

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  6. Mutia Ramadhani

    Kalo malam berasa berubah gitu yaaa, jadi ajeb-ajeb. Kekeke. Saya meski pun tinggal di Bali, jarang banget wisata malam di Legian. Paling malam ya jam 8, setelah itu langsung pulang ke Denpasar. Next time cobain ke Sanur mas, suasananya gak kalah menarik kalo malam.

    1. Post
      Author
  7. Guru Dikdasmen

    Bali termasuk kota yang tak pernah tidur, dibeberapa sudut kotanya tiap malam selalu ramai dengan hilir mudik turis lokal maupun mancanegara. Hemmm kapan ya bisa ke Bali. Sampe usia setua ini belum pernah melihat keindahan kota bali secara langsung

  8. Lisa Moningka

    Iya, justru Bali harus tetap mempertahankan tradisinya. Karena di situlah nilai jual Bali sebagai tempat wisata. Mengenai pakaian di sana cenderung bebas & terbuka. Ingat, cara berpakaian perempuan Bali minim atasan bahkan tanpa atasan pada jaman dahulu. Justru sekarang jauh lebih tertutup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.