“Kenapa tidak langsung terbang ke Denpasar saja?”
Bagi banyak orang, duduk belasan jam di kereta api mungkin terdengar melelahkan. Namun bagi aku, perjalanan ini adalah tentang menuntaskan sebuah mimpi yang aku buat satu tahun lalu.
Sudah lama, Banyuwangi duduk manis di daftar teratas bucket list. Ada rasa penasaran pada kota yang dijuluki The Sunrise of Java ini dan sudah kepikiran untuk sekalian ke Bali via jalur laut.
Namun, sebagai seorang traveler yang harus bijak mengatur waktu cuti dan budget, aku punya strategi: Kenapa harus memilih satu, kalau bisa mendapatkan keduanya?
Memilih jalur darat Jakarta–Banyuwangi–Bali adalah caraku melakukan “efisiensi petualangan”. Dalam satu kali perjalanan, aku bisa membelah Pulau Jawa, mengeksplorasi sudut-sudut Banyuwangi, lalu menyeberang ke Bali untuk suasana yang berbeda.
Ini adalah solusi bagi kita yang ingin mendapatkan lebih banyak cerita tanpa harus menguras kantong untuk dua tiket pesawat yang berbeda.
Di artikel ini, aku tidak hanya akan bercerita tentang perjalanan panjang yang aku lalui. Aku akan membedah itinerary Jakarta Banyuwangi Bali dan budget, tapi lengkap dengan panduan taktis bagi kamu yang ingin memaksimalkan jatah cuti untuk menjelajahi dua destinasi sekaligus.
24 Jam di Banyuwangi: Menuntaskan Ambisi Setahun dalam Satu Hari
Setelah perjalanan panjang dari Jakarta sekitar 16 jam menggunakan Kereta Api Jakarta Banyuwangi dengan Blambangan Ekspres. Akhirnya aku menginjakkan kaki di tanah yang sudah aku impikan selama setahun terakhir.
Aku hanya punya waktu 24 jam di Banyuwangi sebelum harus menyeberang ke Bali. Ambisius? Mungkin. Tapi ternyata, dengan rute yang tepat, eksplorasi Banyuwangi Selatan memberikan semua perjalanan dalam waktu singkat.
1. Pagi di De Djawatan

Destinasi pertama tentu saja Hutan De Djawatan. Memasuki area ini saat matahari masih rendah terasa seperti masuk ke dalam set film Lord of the Rings. Pohon-pohon trembesi raksasa yang tertutup lumut dengan pancaran sinar matahari (light of god) yang menembus celah dahan benar-benar membayar tuntas mimpiku selama setahun.
Tips: Datanglah sepagi mungkin (sekitar jam 7 atau 8 pagi) untuk mendapatkan suasana yang tenang sebelum rombongan bus wisata tiba.
2. Menjelajah Sisi Tersembunyi: Green Island & Pulau Bedil

Siang harinya, petualangan berlanjut ke area Pancer. Aku bersama rombongan open trip Banyuwangi dengan perahu nelayan menuju Green Island dan Pulau Bedil. Di sini, aku menemukan sisi lain Banyuwangi yang jarang terekspos.
Di sinilah Raja Ampatnya Jawa. Ternyata Jawa juga memiliki pulau yang sangat indah seperti di Raja Ampat.

Di Pulau Bedil, ada satu titik yang dikenal dengan Spot T—sebuah celah karang unik yang membentuk huruf T alami dengan air yang sangat jernih.
3. Wedi Ireng: Si Hitam yang Unik

Tak jauh dari sana, perahu merapat ke Pantai Wedi Ireng. Sesuai namanya (Wedi = pasir, Ireng = hitam), pantai ini unik karena memiliki gradasi pasir putih yang bercampur dengan pasir hitam halus di lapisan bawahnya. Ombaknya yang relatif tenang membuat aku sempat berpikir, “Kenapa saya baru ke sini sekarang?”
4. Menutup Hari di Pulau Merah
Sebagai penutup marathon satu hari ini, kami menuju Pantai Pulau Merah. Berdiri menatap bukit kecil di tengah laut yang berubah kemerahan saat matahari terbenam adalah cara terbaik untuk berpamitan dengan Banyuwangi.
Tips Strategis Eksplorasi Banyuwangi Selatan:
- Transportasi: Untuk rute ini, aku sangat menyarankan menggunakan open trip agar tidak memikirkan transportasinya lagi. Kemarin aku pakai open trip @besttrip.bwi. Aku dijemput langsung di hotel dan kita eksplor bersama tour guide yang ramah bangeet.
- Kalau mau sendiri, mungkin kamu bisa sewa motor atau mobil lepas kunci dari area Stasiun Ketapang/Banyuwangi Kota. Jarak antar destinasi di selatan cukup jauh (sekitar 1.5 – 2 jam perjalanan).
- Logistik Perahu: Untuk ke Green Island, Pulau Bedil, dan Wedi Ireng, aku naik perahu yang sudah disewa oleh @besttrip.bwi. Kalau tanpa open trip kamu harus menyewa perahu di Pantai Pancer atau Pantai Mustika. Tipsnya, carilah teman seperjalanan di lokasi untuk sharing cost sewa perahu agar lebih irit.
- Estimasi Waktu: Mulailah dari De Djawatan di pagi hari, lalu habiskan siang hingga sore di area pantai agar kamu tidak kemalaman saat kembali ke pusat kota.
Menyeberang ke Pulau Bali: Sebuah Uji Kesabaran dan Realita Damri
Itinerary Jakarta Banyuwangi Bali tidak cukup sampai di situ, Gaes. Setelah maraton di Banyuwangi, saatnya aku melanjutkan perjalanan menuju Bali. Jarak dari Banyuwangi Kota ke Pelabuhan Ketapang sekitar 30 menit. Sebagai traveler yang membawa koper dan barang bawaan cukup banyak, saya harus membuat keputusan strategis: Bagaimana cara paling nyaman sampai ke Denpasar tanpa harus “geret-geret” koper di jalur pejalan kaki pelabuhan yang lumayan panjang?
Pilihan aku jatuh pada Bus Damri. Logikanya sederhana: naik bus dari Banyuwangi, koper aman di bagasi, masuk ke kapal, dan tinggal duduk manis sampai Denpasar.
Namun, semesta punya rencana lain.
1. Drama di Tengah Selat Bali
Ketika naik ke Damri, aku sudah merasa tidak nyaman karena armada yang aku tumpangi memang terlihat tidak terawat. Lumayan kotor, AC nya rusak, sedikit bau apek dan seperti bus ekonomi antar provinsi pada umumnya. Padahal ketika beli tiketnya tertulis kelas bisnis.
Semuanya lancar sampai bus naik ke atas dek kapal feri. Namun, setelah kapal sampai di Gilimanuk dan penumpang sudah naik ke bus untuk jalan kembali, sebuah kabar buruk datang: Ban bus Damri kami bocor tepat di atas kapal! Karena keterbatasan alat dan waktu sandar, diputuskan bahwa bus tersebut tidak bisa melanjutkan perjalanan setelah turun di Gilimanuk.
Drama tidak berhenti di situ. Saat kapal sandar, kami semua harus dievakuasi ke armada Damri lain di Gilimanuk agar tetap bisa sampai ke Denpasar. Masalahnya? Koper masih “terjebak” di bagasi bus sebelumnya yang ban-nya bocor.
Sebagian penumpang yang tidak membawa banyak barang di bagasi ada yang meminta pengembalian uang dan melanjutkan perjalanannya sendiri. Namun, kami yang barangnya terjebak di bagasi tidak ada pilihan lain selain ikut dioper ke armada lain.
Akhirnya, saya tiba di Denpasar pukul 20.00 WITA, sementara koper saya baru sampai dua jam kemudian, pukul 22.00 WITA. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa dalam traveling, kenyamanan yang kita bayar terkadang datang dengan risiko yang tak terduga.
Dan, di sini saya merasa kembali ditipu oleh fasilitas pemerintah sendiri karena Damri ialah milik BUMN.
2. Tiga Alternatif Menyeberang: Pilih Sesuai Prioritasmu!
Berdasarkan pengalaman tersebut, berikut adalah 3 opsi yang bisa kamu pilih untuk menyeberang ke Bali, tergantung pada kenyamanan dan budget masing-masing:
Opsi 1: Jalur Pejalan Kaki + Bus Umum (Paling Irit)
Kamu cukup beli tiket kapal via Ferizy sebagai pejalan kaki. Setelah turun di Pelabuhan Gilimanuk, kamu berjalan kaki sedikit menuju Terminal Gilimanuk. Di sana, banyak bus umum (bus mikro/travel) menuju Denpasar.
- Kelebihan: Sangat murah dan jadwal fleksibel.
- Kekurangan: Harus kuat mental menghadapi calo di terminal dan siap “geret” koper cukup jauh.
Opsi 2: Kapal Cepat (Fast Boat) Ketapang – Serangan (Paling Cepat tapi Jauh)
Ada layanan kapal cepat langsung dari Banyuwangi yang tidak turun di Gilimanuk, melainkan di Pelabuhan Serangan.
- Kelebihan: Jauh lebih cepat menyeberang dan pemandangannya luar biasa.
- Kekurangan: Harga tiket mahal. Selain itu, Pelabuhan Serangan lokasinya cukup jauh dari pusat Denpasar, sehingga kamu harus keluar biaya lagi untuk transportasi online.
Opsi 3: Bus Damri (Paling Praktis tapi Berisiko)
Naik Damri dari Banyuwangi/Stasiun Ketapang langsung menuju Terminal Ubung, Denpasar atau Pool Damri Denpasar.
- Kelebihan: Tidak perlu repot bongkar pasang barang bawaan di kapal. Semua sudah satu paket.
- Kekurangan: Jika terjadi kendala teknis (seperti ban bocor yang saya alami), proses evakuasi barang bisa memakan waktu lama dan membuat jadwal berantakan.
2 Hari di Bali: Dari Desa Tercantik ke Spot Estetik Tersembunyi
Setelah drama Damri hari sebelumnya, aku mulai eksplorasi di Bali dengan memilih destinasi yang lebih artistik dan tradisional.
1. Menjadi “Orang Bali” di Desa Panglipuran

Destinasi pertama adalah Desa Penglipuran, yang dinobatkan sebagai salah satu desa tercantik di dunia. Untuk mendapatkan pengalaman, kami melakukan:
- Sewa Baju Adat: Aku menyewa pakaian adat Bali. Berjalan di antara rumah-rumah tradisional dengan kain kamen dan udeng. Rasanya beneran sudah seperti orang Bali.
- Sewa Fotografer: Sudah sewa pakaian adat Bali, masa’ nggak ada foto bagus. Jadi, kami mau punya foto dengan kualitas yang bagus. Di sinilah aku baru merasakan punya foto bagus sesuai ekspektasi selama berkali-kali traveling. 😀
Harga sewa baju adat: Rp 75.000
Harga Fotografer: Rp 5.000 /foto
2. Melihat View Gunung Agung di Kintamani

JIka sudah ke Desa Penglipuran nanggung rasanya kalau tidak ke Kintamani karena jaraknya kurang dari 30 menit. Tempat ini punya banyak restoran dan cafe dengan view Gunung Agung. Jadi aku memutuskan makan siang di salah satu restoran di Kintamani.
Akasa Coffee jadi pilihan untuk makan siang dengan view Gunung Agung yang sangat indah. Makanannya menurut aku biasa saja tetapi karena konsep restorannya yang unik dan view yang bagus, jadi Cafe ini ramai terus.
3. Menjelajah Sari Timbul

Sari Timbul (Ubud) adalah hidden gem bagi pecinta seni ukiran kayu. Tempat ini terasa seperti hutan fantasi dengan ukiran-ukiran gergasi yang sangat detail. Ini adalah spot wajib jika mau mencari konten Instagram yang estetik namun masih jarang dikunjungi wisatawan.
Tenang saja, pegawai di sini mau kok menjadi fotografer dan hasil fotonya jangan diragukan. Sinematic bangeet.
4. 32 Do Cafe
Selanjutnya, setelah eksplorasi, waktunya ngopi-ngopi cuantik. 32 Do jadi pilihan karena merupakan kafe estetik dengan seni bina minimalis yang saat ini sedang trend di instagram.
Harga kopinya lumayan pricey dan ekspektasi aku rasanya pasti enak. Ternyata jauh dari ekspektasi. Aku memesan kopi seharga Rp 75.000, tapi rasanya seperti minum good day yang kebanyakan air dan es batu, wkwkw
Mending ke Agrowisata Kopi Luwak sih, bisa mencicipi beragam kopi luwak gratis. Rasanya nggak perlu diragukan, pasti unik dan ada beragam rasa karena diolah langsung oleh pengolah kopi profesional.
Awalnya mau ke sana dan ingin sekali mempelajari prosesnya. Tapi, kali ini belum terwujud, next akan aku tulis jika sudah tercapai mimpi itu. Seperti aku yang sudah mewujudkan mimpiku untuk melihat proses pembuatan Wine Kobra dari fermentasi ular kobra di Vietnam.
Baca: Itinerary Ho Chi Minh 4 Hari 3 Malam
Tips: Untuk yang mau foto-foto dan upload di instagram atau mau mempelajari konsep arsitektur dan interiornya boleh mampir ke sini karena konsepnya sangat unik. Tapi, bagi kamu yang memang mengincar rasa kopinya, mending skip aja daripada kecewa.
4. Krisna Oleh-Oleh atau Agung Bali Oleh-oleh
Belum afdol kalau belum ke Krisna Oleh-Oleh. Banyak yang bisa dicari di sini, seperti kacang disco, kain pantai, souvenir. Harga sudah pasti, jadi tidak perlu tawar-menawar.
Budget Breakdown
Setelah membahas itinerary Jakarta Banyuwangi Bali, lalu berapa sih yang aku keluarkan selama eksplor dua kota tersebut? Berikut rincian budget yang aku keluarkan.

Perjalanan Bukan Soal Kecepatan, Tapi Kedalaman
Perjalanan dari Jakarta ke Banyuwangi, sampai berakhir di Bali ini memberikan pelajaran bahwa kita tidak selalu harus terburu-buru untuk sampai. Justru pada perjalanan itulah kita merasakan prosesnya dan aku memang suka ketika di jalan. Aku bisa berpikir banyak hal ketika di kereta, ketika di kapal, ketika di bus, ketika di pesawat.
Aku bukan hanya berhasil “membayar utang” mimpiku ke Banyuwangi, tapi juga belajar bahwa setiap kendala—seperti ban bus bocor hingga drama koper—adalah bagian dari cerita yang mendewasakan diriku dan bagaimana caraku mengatur emosi.
Dari perjalanan ini, aku membuktikan bahwa dengan perencanaan yang matang, kita bisa mendapatkan pengalaman yang luar biasa.
Kunci utamanya? Budgeting yang rapi.
Banyak yang sering bertanya, “Gimana sih caranya bagi budget biar tetap bisa eksplore banyak tempat tapi nggak overspent?” atau “Gimana cara nabung agar bisa jalan-jalan?”. Bagaimana? Sudah tertarik dengan itinerary Jakarta Banyuwangi Bali yang penuh tantangan ini?
Untuk membantu kalian merencanakan perjalanan impian, aku sudah menyusun Travel Budget Tracking Template yang biasa aku gunakan. Di template ini, kalian bisa:
- Mencatat estimasi vs realita pengeluaran secara otomatis.
- Mengatur dana atau tabungan traveling.
- Mengelompokkan biaya dari transportasi, kuliner, hingga oleh-oleh dalam satu tampilan simpel.
Template Budget Tracking dapatkan di sini.
Kalau kamu mau template budget planning untuk tabungan traveling, kamu bisa dapatkan di sini.
Semoga itinerary Jakarta Banyuwangi Bali ini bermanfaat dan membantu kamu mewujudkan rencana perjalanan yang mungkin sudah kamu impikan sejak lama. Sampai jumpa di petualangan berikutnya!

Punya impian traveling ke Luar Negeri, tapi gaji masih UMR? Mulai belajar kelola keuangan kamu agar lebih bijak, yuk. Aku sudah bahas di ebook ini.



