Asal-Usul Daging Sate Maranggi yang Perlu Lo Tahu

“Kalau jalan-jalan ke Purwakarta lo harus nyobain sate Maranggi.”

Pernyataan itu mungkin sudah ketiga ratus tujuh puluh delapan kali gue denger dari teman, kerabat, saudara, atau bahkan ketemu orang di jalan, atau temen blogger ketika merekomendasikan tempat traveling. Padahal, ketika gue browsing gambar satenya sama dengan sate-sate lainnya. Ya iyalah, kan gambar pasti sama, bedanya fotografernya moto dari atas atau dari samping. Gue juga nggak tahu apakah sang fotografer itu sampe jungkir balik buat dapetin foto Sate Maranggi yang instagramable.

Mendengar penyataan itu berkali-kali, membuat gue harus banget nyicipin sate khas Purwakarta. Wisata kuliner harus gue lakuin agar pulang-pulang tidak ingin balik lagi ke sana. Sayangnya, gue tidak punya teman di Purwakarta, jadi untuk mencari jajanan kaki lima yang mendunia ini harus melalu maps. Untungnya nggak di atas gunung, jadi sinyal terus mendukung.

baca juga: Alasannya ke Toilet, Padahal Selfi Ria di Kuburan Kereta

Setelah berjuang menghadapi puluhan orang yang sama-sama ingin keluar setelah menonton pertunjukan Air Mancur Menari di Sri Baduga, perut sudah meraung minta makan. Well, gue harus cepat-cepat mencari Sate Maranggi. Untungnya, gue dapet kenalan teman baru dari teman [kalian keder nggak? Semoga nggak ya].

Melihat penjual Sate Maranggi berjejer di pelataran area Sri Baduga, rasanya ingin mendeprok di sana. Namun, gue lewati aja karena teman baru gue ini punya rekomendasi yang lebih enak, pastinya yang di google juga masuk di halaman pertama. Sate Maranggi Hj. Yetty namanya, lokasinya di Jalan Raya Cibungur, Purwakarta. Paling sih dua puluh menit dari pusat kota Purwakarta, Jalanannya mah tinggal lurus doang. Nggak Macet. [kalian bisa kira-kira sendiri itu jauh atau deket].

Pemandangan yang gue lihat di sana itu bukan restaurant, tapi pengunjungnya sebagian besar bermobil. Tidak mewah karena teh tawar masih gratis kayak di warung padang, tempatnya enak, mejanya bersih dan pelayanannya cepet banget. Saya hanya bisa mencicip Sate Maranggi daging sapi. Masih untunglah, kalau kemaleman sedikit mah udah tinggal tusuk bekas.

 

Sate Maranggi Awalnya dari Daging Babi

Sebelum sampe ke Purwakarta, wisata kuliner udah terngiang-ngiang di otak gue dan pertanyaan “Kenapa ya disebut sebagai Sate Maranggi?” Mungkin jadi pertanyaan besar di bucket list gue. Ketika gue nanya langsung sama pelayannya, ia juga tidak tahu persis. Ternyata, menurut yang dilansir Kompas Travel, ternyata sate khas Purwakarta ini hasil asimilasi dari budaya Cina. Dulunya pendatang Cina yang menetap di Jawa Barat berbaur dengan budaya Sunda. Olahan makanan yang berasal dari pendatang Cina tersebut terbuat dari daging Babi, bukan dari daging sapi atau kambing seperti sekarang. Dari bumbu dan pengolahannya, sama persis seperti dendeng yang dijual di Cina, Taiwan, dan Hongkong. Lambat laun, akhirnya Sate Maranggi bertransportasi.

Masuknya agama Islam di daerah tersebut membuat bahan dasar makanan khas tersebut diganti dengan daging sapi atau kambing. Pengolahannya tidak berubah. Setelah tiga tusuk sudah masuk perut dan gue selesai baca artikel itu, gue kok merasa berdosa, tapi udah terlanjur masuk perut, ya udah lah ya gak papa. Tapi tenang, saat ini Sate Maranggi sudah tidak lagi menggunakan daging babi di Indonesia, kalau di Cina mungkin masih.

 

Teknik Pengolahan yang Unik

Biasanya sate dibuat langsung menusuk-nusukkan daging lalu dibakar. Sate Maranggi berbeda. Sebelum ditusuk-tusukkan, daging direndam terlebih dahulu dengan macam-macam rempah. Pantesan, rasanya meresap banget dan tidak bau daging sama sekali. Setelah direndam, daging baru ditusuk-tusukkan lalu dibakar. Sambal yang digunakan sama dengan sate lainnya, yaitu sambal kecap. Kelihatannya mah sama aja ya. Tapi ternyata rasanya beda. Nggak nyesel jauh-jauh ke sini untuk memenuhi hasrat kuliner.

So, kalau jalan-jalan ke Purwakarta rugi nggak cicipin Sate Maranggi. Kalau menurut kalian, wajib nggak wisata kuliner saat traveling?

 

 

baca juga:

Wajib Coba 3 Kuliner Cirebon Ini yang Mirip Kuliner Jogja

Cirebon Tetap Kota Udang, Bukan Kota Seribu Keraton

Kopi Melengkapi Momen Berbagi Cerita 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *