Taktik Cerdik Monyet Pura Luhur Uluwatu

PASTI tidak asing dengan wisata di Bali yang terkenal dengan monyetnya. Bukan hanya Sangeh yang dikenal dengan keranya, tetapi Pura Luhur Uluwatu juga memiliki penunggu cerdik berupa monyet. Monyet memang salah satu binatang yang pintar. Selain dikenal dengan pertunjukan topeng monyet, saya juga ingat dengan obat nyamuk bakar ketika memasuki Pura Luhur Uluwatu (yang gambarnya dua ekor kera sedang menyuapkan pisang kepada anaknya, sekarang saya sudah tidak pernah lihat lagi dijual di warung karena tergeser dengan obat nyamuk semprot).

Sebelumnya, guide sudah menceritakan bahwa monyet di Uluwatu pintar sekali mencopet. Copet pasar aja kalah. Dalam hitungan detik, topi, kaca mata, ataupun benda-benda mencolok lainnya bisa raib dan terbang ke pepohonan. Tapi tenang, monyet Uluwatu tidak akan mencopet dompet karena mereka tahu kalau pengunjung lebih banyak menyimpan kartu daripada uang.

Keahlian monyet-monyet ini juga sempat menjadi penelitian beberapa lembaga karena taktik mencuri yang dimiliki monyet Uluwatu tergolong aneh dan unik. Kelakuan monyet tersebut hanya ada di sini—khususnya Bali—dan seperti sudah menjadi kebiasaan yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Monyet-monyet itu akan memberikan kembali barang curiannya apabila mendapatkan makanan. Di sinilah kekhasannya, yaitu ketika barang kita dicuri, kita harus meminta pawang monyet memberikan makanan. Imbalannya dengan kita membayar makanan tersebut, kita sendiri juga boleh yang memberi makanannya atau kalau takut pawang monyet akan membantu.

Sumber: Kusumatour

Ketika saya melihat monyet-monyet itu memberikan barang curiannya, sebagian besar barang itu dicuri dari turis mancanegara. Wah, pintar sekali ya monyet-monyet ini—ya memang pengunjung domestik yang datang bisa dihitung. Satu lagi yang membuat pemandangan baru ketika memasuki Uluwatu, yaitu ada seorang bule yang kakinya berdarah karena cakaran monyet. Begitulah akibatnya jika tidak mau melepaskan barang yang sudah dicuri monyet, monyet tersebut akan main kasar. Kalau monyet mulai menyentuh barang kita, mending lepaskan saja dan cari pawang monyet untuk membantu. Kalau mau mengikhlaskannya ya tidak apa-apa. Inilah yang perlu diperhatikan oleh para pengunjung bahwa kita jangan memberikan kekerasan kepada binatang cerdas tersebut.

baca juga: 4 Hal yang Perlu Kamu Lakukan di GWK Agar Tak Melihat Patung Besar Saja

Terkadang monyet-monyet itu akan datang tiba-tiba. Saya juga tidak melihat sudah ada dua monyet di belakang saya. Saya sudah takut saja, tetapi pawang monyet sudah ada di belakang saya, jadi saya tenang. Pawang tersebut memberikan makanan berupa buah satu bungkusan kecil, lalu monyet tersebut melepaskan topi curiannya dari seorang turis.

“Thank you so much,” ujar turis tersebut yang saya rasa berasal dari Korea.

“Money,” kata pawang monyet sambil menengadahkan tangannya. Kemudian turis tersebut memberikan satu lembar sepuluh ribuan kepada pawang monyet. Kita bisa memberikan seikhlasnya kepada pawang monyet.

Begitulah proses transaksi yang saya lihat ketika ada monyet di depan saya persis. Tidak lama kemudian, datang monyet lagi dan merebut makanan dari monyet tersebut. Wah, pertunjukan natural yang baru pertama kali saya lihat. Sayangnya saya takut mengeluarkan kamera atau ponsel untuk memotret mereka. Nanti kalau tiba-tiba kamera saya diambil, pulang pulang saya bisa nangis karena kameranya terjun dari atas pohon.

Pemandangan inilah yang di kebun binatang tidak ada. Tingkah laku monyet-monyet tersebut sangat menggemaskan dan lucu.—ketawa dong. 😀 Semua yang dilakukannya bisa saya katakan itu candid. Sangat natural tidak ada yang namanya jaga image. 😀

 

 

baca juga:

Nontoni Paralayang di Pantai Pandawa

Rumah Panggung Zonk Zonk Nyenengin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *