Traveling 10/17: Aura Mistis Lorong Tembusan di Goa Sunyaragi Cirebon #6

Photographer by Prajna Farravita

Apa yang saya lihat di Goa Sunyaragi? Ya, goa. Goa yang terbentuk dari batu koral.

Apa yang saya rasakan ketika menjelajahi Goa Sunyaragi? Ya, capek tapi puas. Dengan luas goa 15 hektar saya ingin melihat semuanya. Sampai, sampai teman saya, sebut saja Nanda beberapa kali meminta untuk istirahat. Untungnya kami bawa air minum.

Photographer by Prajna Farravita

Ini wisata sejarah kedua kalinya yang pernah saya lakukan. Pertama kali saya melakukan wisata sejarah ke Candi Prambanan yang saya ceritakan di sini. Kedua kalinya ialah ke Goa Sunyaragi, tepatnya di Kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Cirebon. Meskipun saya belum banyak mengunjungi tempat-tempat sejarah seperti ini, tetapi kedua wisata tersebut memiliki aura yang berbeda. Bukan cuma itu, pemandangan yang saya lihat juga berbeda. Ada pemandangan lain ya? Ya iya lah, satu pemandangan Jogja, satunya lagi pemandangan Cirebon. *Nah loh.

Photographer by Prajna Farravita

List wisata ini menjadi destinasi yang wajib saya kunjungi ketika saya diskusi dengan teman seperjalanan saya. Bagaimana tidak, tempat wisata ini paling unik dan konon katanya memiliki mitos tersendiri. Ketika saya melihat bagian belakang goa, saya sudah melihat keunikan tersendiri yang belum pernah saya lihat di situs sejarah lainnya.

Photographer by Prajna Farravita

Menurut sejarah, asal-usul Goa Sunyaragi ini merupakan tempat bersemedi para kesultanan dari Keraton Kasepuhan dan keluarganya. Sunya artinya sunyi dan Ragi artinya Raga. Jadi, tempat ini merupakan tempat untuk meditasi pada masa kesultanan kasepuhan. Di dalamnya ada sepuluh goa dan terdapat lorong-lorong kecil tembusan yang memiliki saluran air. Dahulu, Goa Sunyaragi disebut juga sebagai Taman Air Goa Sunyaragi. Hal itu karena area goa dikelilingi oleh danau dan memiliki saluran air di lorong-lorong candi yang menembuskan dari satu tempat ke tempat lain. Namun, sekarang danau tersebut sebagian besar sudah mengering dan hanya ada beberapa danau yang masih menghasilkan genangan air, itupun ketika musim hujan. Pada saat saya berkunjung masih musim kemarau, jadi sebagian lokasi kering.

Photographer by Prajna Farravita

Goa ini terbuat dari batu koral yang konon berasal dari pantai Selatan Jawa. Mendengar info tersebut, beberapa orang berpendapat bahwa goa itu terbentuk dari kekuatan spiritual karena zaman dahulu belum ada kendaraan yang memadai untuk membawa batu-batu tersebut. Percaya tak percaya sih, tapi ya bagaimana, dahulu yang ada hanya kendaraan seperti kereta berkuda yang hanya bisa mengangkut beban dua orang, itupun membutuhkan waktu satu tahun untuk sampai ke tujuan.

Mitos Goa Sunyaragi

Semua tempat sejarah pasti memiliki mitos. Lalu apakah mitos di Goa Sunyaragi? Di goa ini terdapat patung Perawan Sunting, yang jika kita memegangnya bisa sulit jodoh. Jadi, hati-hati juga ketika mengelilingi area goa dan jangan sampai memegang patung tersebut. Namun, jika tidak sengaja, kita bisa pergi ke Goa Kelanggengan dan masuk ke dalamnya yang konon bisa enteng jodoh. Artinya, ada penangkalnya jika kita tidak sengaja memegang patung Perawan Sunting. Sebenarnya percaya tidak percaya sih dengan mitos tersebut, tetapi saya juga tidak berani memegang patung Perawan Sunting. 😀

Photograper by Prajna Farravita

Aura Mistis di Lorong-lorong Candi

Di Goa Sunyaragi terdapat sepuluh candi yang memiliki lorong tembusan. Ketika melihat tour guide dan beberapa orang berani masuk sebenarnya saya ingin ikutan masuk, tetapi langkah saya maju mundur. Apalagi mendengar, lorong-lorong prajurit semakin ke dalam akan semakin pendek, nanti kalau tiba-tiba tidak ada tembusannya bagaimana? Bisa-bisa saya terjebak dalam sebuah lorong kecil yang gelap gulita dan tak menemukan jalan keluar *HALAH

Photograper by Prajna Farravita

Selain lorong di dalam candi yang dulunya sebagai tempat prajurit berkumpul, ada juga lorong di bagian atas candi. Saya berani melewati lorong di bagian atas karena lorongnya lebar dan terang, tetapi selalu ada petugas yang mengingatkan bahwa pengunjung tidak boleh naik tinggi-tinggi. Soalnya tidak ada pangeran bersayap yang bisa menolong apabila terjadi insiden terjun dari atas atau kasus mencoba bunuh diri. *CEPLAK

Photographer by Nanda Adita

Jambatan Shiratal Mustaqim di Goa Sunyaragi

Kebayang di akhirat di mana kita akan melewati jembatan yang mengukur amalan kita di dunia. Di Goa Sunyaragi ini terdapat jembatan yang menghubungkan dua candi. Jembatan tersebut tidak ada pegangan di pinggirannya dan bagian bawahnya ialah danau yang berisi genangan air. Ketika melewati jembatan tersebut rasanya ngeri melihat ke bawah. Namun, apabila tidak melihat ke bawah bisa-bisa kaki salah langkah dan kita terjun ke bawah, terus kalau di bawah ada buayanya bagaimana? *WALUYO

Photographer by Nanda Adita

Teman seperjalanan saya sampai-sampai membutuhkan waktu satu jam untuk berani melangkah melewati jembatan Shiratal Mustaqim itu. Setelah saya menghabiskan air minum satu botol sambil ngobrol dengan satpam penjaga tentang goa dari titik depan sampai titik akhir dan titik atas ujung goa, barulah teman saya berani melangkah dan selamat sampai tujuan. 😀

Photographer by Nanda Adita

Bagi kalian yang akan berkunjung ke Cirebon, wajib menempatkan destinasi ini untuk wisata sejarah Cirebon. Saya sarankan datang ke sini pada pagi hari, pukul 8 – 10 pagi atau pada sore hari, karena jika siang hari akan terlalu terik dan tidak bisa menikmati setiap candi-candinya. Kalian juga harus menyewa guide agar bisa memandu dan menceritakan asal-usul dan kegunaan setiap candi yang ada, lumayan kan bisa menambah pengetahuan sejarah. Saya sarankan juga jangan membawa pacar atau teman yang gampang ngeluh capek karena keunikan goa akan ada dari depan sampai belakang, hingga bagian atas goa. Jadi, kalian pasti akan naik ke sisi goa bagian atas, sehingga diwajibkan membawa air minum. Kalau sudah terpaksa membawa pacar atau teman yang rempong, letakkan saja di resto depan dan biarkan dia berselfi ria dengan desain restoran yang bagus itu.[]Prav

 

baca juga:

Traveling 10/17 Cirebon: Keraton Kanoman, Tunjukkan Pesona “Mu” #2

Berjalan Itu Tidak Ada Hentinya

Berjalan Sebagai Pemikir

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *