Traveling 10/17: Cirebon Tetap Kota Udang, Bukan Kota Seribu Keraton #5

Dokumentasi Pribadi

UNSUR keraton atau gapura khas keraton—yang berwarna merah dengan tekstur batu bata—rasanya ada di seluruh kota Cirebon. Dua hari mengelilingi Cirebon dengan sepeda motor, rasanya mata saya lier dan berkunang-kunang dengan warna merah bata. Bagaimana tidak, seluruh kota semua bangunannya memiliki gapura yang sama. Hal itu bisa membahayakan penduduk baru yang mempunyai kebiasaan ngapalin patokan gapura (baca: seperti saya)—karena bangunan satu akan nyaru dengan bangunan lainnya. Saya saranin jangan terpaku dengan patokan gapura kalau tidak mau salah masuk tempat di Cirebon. Lebih baik perhatikan paling atas bangunan, apakah itu hotel—pasti punya gedung yang menjulang atau disebut sebagai gedung pencakar langit yang bisa menghalangi sinyal orang-orang pecandu sosial media yang berada di bawahnya, mall—yang pasti ada logo Matahari, XXI, Giant, atau Hipermart yang memiliki gedung tinggi tapi nggak setinggi hotel, sekolah—yang kelihatan tiang benderanya, kantor kelurahan—yang terpasang tulisan ‘KANTOR KELURAHAN’ pake papan tembok yang sedikit lusuh cenderung hampir tak terlihat, atau pasar udang—sudah ketahuan dari baunya dan lalu lalang ibu-ibu yang nenteng kresek.

Sepanjang jalan ketika dari Bukit Gronggong ke Keraton Kasepuhan saya baru sadar kalau unsur oranye dominan merah dan bertekstur bata ada di setiap kanan dan kiri saya. Semua gapura yang memiliki bentuk seperti itu saya kira tempat-tempat penting di Cirebon. Dengan banyaknya bangunan tersebut, Cirebon tampak keren sekali dipenuhi dengan tempat-tempat penting seperti gedung-gedung pertemuan para raja. Banyak sekali keraton-keraton di sepanjang jalan kota Cirebon, sampai ada keraton yang memiliki jalan sempit dan panjang—gang jalan. Bisa dipastikan saya geleng-geleng kepala berkali-kali karena kagum dengan kota Cirebon ini.

“Ini mah bukan Kota Udang, tapi Kota Seribu Keraton,” ujar saja dalam hati.

Ketika tiba di Keraton Kasepuhan, kira-kira pukul 17.00, lebih-lebih saya melihat pagar tembok berwarna merah bata yang mengelilingi bangunan. Bangunannya tidak terlihat dari luar, tapi bisa dipastikan bahwa itu Keraton Kasepuhan, soalnya sudah banyak pedagang berjejer di pelipiran tembok itu. Sebelum tiba di gerbang depan, saya harus memutari alun-alun Kasepuhan. Bentuknya ya sama, lahan luas berbentuk lingkaran yang tengahnya dipenuhi dengan bocah-bocah kecil main layang-layang dan balon gas, lalu sekelilingnya bergelar lapak-lapak pedagang kaki lima, mulai dari makanan khas Cirebon, kain-kain batik, hingga pernak-pernik yang ramenya saat sore.

Dokumentasi Pribadi

Jam lima sore ternyata masih banyak pengunjung yang masuk ke Keraton Kasepuhan dan kebanyakan bule. Padahal saya ingin masuk tetapi karena sudah sore saya mengurungkan niat itu. Selain tidak puas berkeliling, menjelang sore rasanya mengerikan jika berada di tempat yang memiliki legenda adat kental ini. Apalagi pengunjung yang ke luar lebih banyak daripada pengunjung yang masuk. Pasti orang-orang di dalam akan lebih sedikit menjelang malam nanti. Akhirnya, saya dan teman saya mengambil foto dari luar saja—yang penting dapet foto di tulisan ‘KERATON KASEPUHAN’ nya. Tapi ya, alih-alih, sepulangnya saya menyesal juga tidak masuk dan melihat singa barong.

Unsur bangunan arsitektur di kota Cirebon inilah yang tetap mengikuti bangunan keraton. Keraton Kasepuhan memiliki arsitektur khas berwarna merah bata dan bertekstur bata. Masjid Agung yang berada bersebalahan juga demikian. Arsitektur kuno keraton tersebut masih dipertahankan sampai sekarang. Semua gapura tempat-tempat di Cirebon disamakan. Saya kira Jogja yang memiliki kekhasan kota dengan adat kunonya, ternyata Cirebon juga memertahankan arsitektur keratonnya. Jadi, semua bangunan di sepanjang jalan tadi bukan bangunan penting yang digunakan oleh para raja atau wali di Cirebon pertemuan penting atau rapat tahunan, tapi digunakan oleh seluruh masyarakat Cirebon.

Melihat arsitektur keraton yang diterapkan di gapura setiap bangunan, rasanya saya sedang hidup di zaman kekeratonan, di mana terjadi konflik masyarakat hingga perdebatan kekuasaan dari sebuah keraton yang akhirnya terpecah dan menghasilkan keraton-keraton lain. Rasanya saya mengenal betul tradisi setiap hari seperti tarian-tarian yang melambangkan suatu hal dan tradisi upacara yang dilakukan rutin. Rasanya saya seperti memasuki mesin waktu Doraemon menuju ke masa lalu *eaaa–gue rasa, antara gue ngantuk karena sudah pukul 23.54 sama terbawa oleh khayalan.

Inilah keunikan yang bisa saya sebut untuk kota Cirebon. Unsur keraton masih terus menjadi arsitektur andalan di Cirebon. Saya akui bahwa ciri khas itu sungguh keren karena pada zaman sekarang—banyak orang menyebutnya zaman now—sudah tidak lagi memedulikan unsur-unsur kebudayaan Indonesia dan mengubah desain-desain interior menjadi tema-tema industrial, minimalis, klasik, dll.

Jujur saja, saya suka dengan arsitektur unsur keraton tersebut. Warna merah bata memang tidak menampakkan kemewahan tetapi nilai klasiknya terlihat. Setiap garis-garis yang membentuk teksturnya itu bisa dikatakan tidak sembarangan. Di situlah seninya. Jadi, kota Cirebon tetap Kota Udang atau Kota Wali, bukan Kota Seribu Keraton—Lah wong di Cirebon keratonnya juga cuma ada tiga, bukan seribu.[]Prav

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *