Touring 9/17: Senja Tertinggal di Jayanti #3

Dokumentasi Pribadi

 

SENJA tak pernah bertahan lama. Ya, karena banyak yang bilang bahwa keindahan itu datangnya hanya sebentar. Ungkapan itulah yang sering diibaratkan dengan senja. Itu mengapa senja sering ditunggu-tunggu kemunculannya, meskipun sebentar.

Perjalanan touring pada September 2017 ini lokasi kedua yang saya kunjungi ialah Pantai Jayanti. Masih berada di Sindang Barang, Cianjur, Jakarta Barat. Lokasi Pantai Jayanti tak jauh dari Pantai Sereg. Perjalanannya pun masih menyusuri pantai. Beberapa kali melewati jembatan dengan pemandangan sungai yang indah. Di sungai tersebut ada beberapa kapal yang singgah dan airnya terlihat sangat biru. Sungguh menampilkan bagaimana keindahan dunia.

Kami tiba di Pantai Jayanti pada pukul 16.00. Saya berharap bisa mendapatkan senja di pantai karena selama ini saya belum pernah melihat senja secara langsung di pantai. Sungguh menyedihkan menurut saya. Bagaimana tidak, seorang pecandu senja belum pernah menikmati senja di pantai 🙁

Tidak dikenai biaya sepeserpun untuk masuk ke pantai ini. Pantai yang memiliki bebatuan menurut saya lebih indah dibandingkan Pantai Sereg yang terkesan panas. Jayanti memiliki garis pantai yang panjang dengan ombak yang cukup besar. Itu mengapa selalu terpampang plang peringatan untuk tidak mandi di pantai tersebut. Bebatuan yang menumpuk di sisi selatan cukup besar sehingga tepat dijadikan objek foto. Tidak jarang pengunjung lebih banyak menumpuk di lokasi tersebut dibandingkan di sisi sebelah utara.

“Senja Tak Pernah Berbohong Bagaimana Indahnya Semesta”

Adanya bebatuan yang cukup besar dan menumpuk membuat ombak terkadang mampu melewati bebatuan tersebut. Apabila berada di lokasi tersebut diusahakan untuk tidak terlalu jauh karena ombak bisa menyeretnya. Cukup berbahaya memang, tetapi keindahan lautnya bisa dinikmati ketika berada jauh di atas batu.

Dari beberapa pantai yang saya kunjungi, baru kali ini saya berkunjung ke pantai dengan bebatuan yang cukup banyak dan besar-besar. Ombak yang masuk ke dalam sela-sela batu membuat estetika tersendiri ketika masuk ke dalam frame foto.

Untuk menikmati sore, kami berkumpul di salah satu bebatuan tersebut dan bercanda tawa sambil diiringi suara deburan ombak yang menabrak batu-batu tersebut. Beberapa kali cipratan air mengenai kami tetapi tak pernah kami hiraukan. Alam menemani kami dalam mengeluarkan celetukan-celetukan heboh sang pejuang touring. Hahahaha, terlalu hiperbol sepertinya saya menuliskan ini.

Dokumentasi Pribadi

 

Saya benar-benar ingin menikmati senja di Pantai Jayanti ini. Saya sudah memiliki bayangan tentang angle-angle foto yang akan saya ambil dengan objek batu dan background senja. Saya akan mendapatkan pengalaman perjalanan yang sempurna apabila senja sudah saya dapatkan. Namun, apa yang terjadi? Perut kami sudah terlalu lapar dan kami membutuhkan asupan makanan. Akhirnya, kami meninggalkan Pantai Jayanti sebelum senja itu datang. Senja belum menyapa, kenapa kita harus pergi? Ini masalah perut yang susah diajak kompromi. Oh, ya Tuhan. Kali ini saya gagal lagi menjadi seorang pejalan yang sempurna. 🙁

Di sanalah sore terakhir kami di Cianjur. Kami akan bermalam di Cianjur dan besok pagi-pagi sekali kami harus tancap gas ke Garut untuk mengunjungi destinasi terakhir kami, yaitu Pantai Santolo.[]Prav

 

 

 

Prajna Vita

Jakarta, 9 September 2017

16.39

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *