Kita Ada Karena Sejarah

Dokumentasi Pribadi

 

SEJARAH merupakan warisan unik dunia. Tak heran jika wisatawan menempatkan napak tilas dalam daftar kunjungan travelingnya, karena warisan tersebut bukan hanya berupa legenda saja, tetapi terdapat buktinya. Bukti-bukti itu terlihat klasik tetapi mewah, padahal terbentuk melalui cara yang sederhana.

Mulanya, aku tidak pernah melihat kehebatan sejarah. Lagi aku katakan. Ketika sesuatu itu mulai merambati otak, pikiranku semakin terbuka dan melihat dari berbagai sudut pandang. Dari situlah indra penglihatanku terbuka dan meleburkan perasaan.

Candi Prambanan, pilihan tempat kunjungan travelingku pada hari pertama di Jogjakarta. Warisan budaya Indonesia ini langsung membuka indra penglihatan hingga mengalir pada perasaan. Aku mengenal sejarah hanya di bangku sekolah, setelah itu hilang begitu saja. Ironisnya, ketika disusupi dengan berbagai teknologi modern aku tidak mau tahu lagi cerita-cerita sejarah itu, padahal bukti-bukti yang sangat dekat denganku ini sangat dikagumi oleh para turis mancanegara.

Aku melihat kembali relief-relief candi yang begitu klasik dan indah. Kedetailan pahatan-pahatan pada dinding candi itu tidak sembarangan diukir, tetapi mereka juga menyampaikan beragam kisah di dalamnya. Melalui batu-batu itu terbentuklah bangunan yang dapat menghasilkan cerita dari setiap dinding candi.

Mataku terus memerhatikan setiap sudut Candi Prambanan ini hingga aku memasuki lorongnya. Aku semakin melihat kuasa Tuhan, meskipun terkesan animisme dan dinamisme, tetapi sungguh hebat ciptaannya. Pikiranku mulai terbuka ketika para turis-turis asing yang tidak hanya melihat keunikan candi, tetapi mereka juga ikut belajar. Mempelajari sejarah dan cerita terbentuknya candi tersebut. Lalu, mengapa orang bangsa sendiri begitu tak acuh dengan kekayaan negara ini?

Perjalananku menyusuri setiap lorong candi membuka setiap pikiran yang terus memuji kehebatan Tuhan. Mengucapkan Subhanallah berkali-kali dan berhenti di tangga pertama tempat patung ganesa bertapa. Aku melihat diriku, aku mengucapkan siapa namaku, dan aku mengeja kembali dua kata namaku.

Sejarah dan agama islam. Perpaduan kedua unsur tersebut merupakan anugerah yang diturunkan pada namaku. Nama ialah doa dari orang tua untuk anaknya, maka aku bangga kepada mereka, orangtuaku. Mereka begitu mempertimbangkan namaku yang tetap berpegang teguh pada nilai agama dan melekatkan nilai sejarah di dalamnya. Penerapan nama dengan unsur sejarah yang disesuaikan dengan kata dalam bahasa arab membentuk dua unsur saling melengkapi. ‘Farojafarron vita’ dalam bahasa arab, artinya ‘perempuan yang lari untuk menghilangkan dukacita’. Sedangkan ‘Prajna Parramita’ dalam sejarah yang diambil dari nama gadis Ken Dedes.

Kelahiranku ialah sejarah, masa pertumbuhanku menciptakan banyak sejarah, dan perjalananku untuk mencapai tujuan di dunia dan akhirat ialah sejarah. Jadi, nama ‘Prajna Farravita’ terlekat sejarah dan serapan dari bahasa arab agar membuatku mengerti bagaimana ciptaan Tuhan yang dititipkan kepada khalifah di bumi.[]Prav

 

 

 

Prajna Vita

Jogjakarta, 17 Januari 2016

22.30

#Foto diambil di Candi Prambanan, Yogyakarta

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *