Curug Bengkawah, Kekayaan Alam yang Tersembunyi di Pemalang

Dokumentasi Pribadi

 

Curug Bengkawah atau Curug Kembar. Namanya baru saja aku dengar ketika mengunjungi kampung halaman yang kelima kalinya sejak tinggal di ibu kota. Lokasinya di Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Tempatnya tidak jauh dari terminal Randudongkal. Jika dari Comal, harus menempuh perjalanan sekitar dua jam dengan menggunakan sepeda motor.

Pasti tidak terdengar asing dengan tempat wisata Curug. Ada ribuan bahkan jutaan curug di Indonesia karena negara agraris ini juga kaya dengan gunung. Beberapa dari sekian banyak curug memang sudah terkenal, tetapi bagaimana dengan curug-curug kecil yang belum dijamah orang? Padahal curug tersebut mempunyai keindahan yang tersembunyi.

Awalnya, aku dan lima temanku bingung ingin mengunjungi tempat pariwisata apa setelah lebaran. Pagilaran dirasa terlalu ramai, apalagi dengan waktu liburan seperti ini. Beberapa kali meminta rekomendasi dari para tetuah, mereka mengusulkan Petokriyono. Sama-sama curug, tetapi medannya terlalu jahat untuk seseorang yang belum lincah membawa motor, karena dua cewek harus membawa motor sendiri.

Kami mencoba mencari tempat-tempat lain yang unik dan belum pernah dikunjungi. Pada saat itu, tengah malam, aku mendengar cerita dari teman ibuku yang sudah mengunjungi Curug Bengkawah. Aku mencoba mencari info dengan patokan yang kami tahu hanya Terminal Randudongkal. Pada hari Jum’at, 24 Juli 2015, kami memutuskan untuk mengunjungi Curug tersebut dengan modal nekat, tidak tahu lokasi tepatnya.

Kami salah jalur, akhirnya berhenti, kemudian bertanya kepada pemilik warung sambil membeli tiga botol minuman. Kami memutar balik dan mengikuti apa yang ditujukkan kepada pemilik warung tadi. Setelah menyusuri jalur, kami menemukan palang bertuliskan “Curug Bengkawah”. Kami terus mengikuti jalan. Untuk memastikan, kami bertanya kembali.

Menyusuri jalan perumahan biasa membuat sebagian dari kami tidak percaya. Setelah itu menemukan sawah dan kami harus mengikuti jalan yang bisa dilalui hanya satu motor, karena kanan kiri sawah dan sungai. Dengan keberanian, akhirnya tibalah di lokasi tempat parkir. Untuk tiket masuk dan parkir dikenai biaya hanya Rp10.000 saja. Cukup murah bukan?

Selanjutnya kami harus berjalan di tengah sawah dengan waktu kira-kira 10 menit dari lokasi parkir. Hamparan sawah yang hampir menguning begitu indah. Selama dua tahun terakhir aku tak pernah lagi bisa melihat padi yang menguning.

Kami harus menuruni bebatuan untuk mengejar suara deburan air. Dan. Menakjubkan!! Air yang deras, dua curug berjejer, ditambah dengan dua pohon beringin yang berada di satu lokasi. Bukan hanya itu saja, potret hutan juga masih terasa di sana. Masih ada banyak pepohonan rindang yang hijau. Jika menengadahkan kepala ke atas, maka akan terlihat sinar matahari yang menembus melalui celah-celah daun. Itulah sebabnya mengapa masih banyak monyet yang lalu lalang.

Aku mengerti mengapa dinamakan Curug Kembar. Dua curug sejajar yang terlihat sama dan dua pohon beringin yang berada di depan curug tersebut. Benar-benar mempunyai dua kuasa Tuhan yang menakjubkan. Suara deburan air begitu membuat mata tak pernah berpaling dari buliran-buliran air yang saling bertabrakan.

Dokumentasi Pribadi

 

Lokasi yang masih sepi membuat kami mampu menikmatinya dengan nyaman. Tidak ada jubelan orang-orang, tidak ada teriakan anak-anak, tidak ada lalu lalang orang-orang yang bisa membuatku seperti berada di ibu kota lagi. Air yang jatuh dari ketinggian 20 meter, tertabrak dengan kumpulan air, kemudian terdorong dengan air lagi dan menabrak batu, dari situlah suara deburan terdengar. Hawa dingin, bercampur dengan angin yang semilir. Sungguh tenang.

Lokasinya masih sangat alami, sama sekali belum terjamah orang banyak. Meskipun masih berantakan, tetapi semua ini masih dalam proses untuk dipercantik lagi. Aku yakin, satu tahun ke depan, lokasi sekitar akan lebih cantik. Para pedagang juga belum mempunyai tempat. Mereka masih menggelar terpal untuk berjualan di bawah dua pohon beringin tersebut, sehingga harga makanan di sana juga masih murah. Bukan hanya itu saja, beberapa monyet melompat di atas curug. Mereka melewati curug dengan bergelantungan di atas pohon. Sinar matahari sudah tampat tepat di atas curug, membuat kami semua yang berada di bawah merasa disinari oleh-Mu Tuhan.

Kami memang belum bisa berjalan jauh. Kami memang belum pernah bisa mengumpulkan semua teman untuk menciptakan kisah bersama. Berkali-kali sudah gagal. Terkadang aku muak dengan semua itu, tetapi itulah yang harus diterima.

Kami memang belum berani untuk melangkah kemana apa yang telah tetuah ceritakan. Apa mereka hanya ingin membuat kami iri? Atau ingin membuat kami takut? Jika perasaan itu benar, aku juga tak akan keras menyalahkannya. Namun, kami mampu menemukan tempat manakjubkan yang belum pernah kalian kunjungi. Menemukan hal baru, menemukan lokasi yang sederhana, tetapi menyimpan keindahan yang tak kalah menakjubkan.

Mungkin masih menakjubkan bagi ukuran kami. Namun, dengan berjalan menemukan titik-titik yang masih awam, itu akan menjadi cerita awal kami. Simpan cerita kalian dalam bentuk apapun yang kalian inginkan, maka kalian akan mengerti. Terima kasih sudah menjadi teman travelling-ku, Kawan.[]Prav

 

 

Prajna Vita

Jakarta, 09 Agustus 2015

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *