Air Terjun Tersembunyi di Curug Bidadari, Batang

Dokumentasi Pribadi

 

Apa jadinya jika tujuan trip berputar arah?

Menikmati panorama alam yang sudah dikenal banyak orang sering kali menjadi tujuan traveling. Awalnya memang iya, tetapi akhirnya putaran jatuh di lokasi baru yang masih jarang dijamah orang.

Curug Bidadari mampu membayar perjuangan kami setelah menempuh perjalanan panjang. Curug yang baru ditemukan 8 bulan lalu ini terletak di Desa Purbo Jolotigo, Kecamatan Talun, Pekalongan. Pastinya akan masuk ke dalam daftar destinasi alam kami selanjutnya.

Melewati jalanan ektrim tidak menjadi kendala untuk sampai ke curug yang memiliki tiga lokasi ini. Lokasi pertama merupakan sungai yang dangkal dengan bebatuan besar. Sungai tersebut masih bisa disusuri hingga sampai ke lokasi kedua, yaitu curug besar yang sungainya cukup dalam. Di situlah gemuruh air berasal dan air terjunnya menambah kindahan alam. Setiap pengunjung pasti akan berhenti dan mengabadikan momen. Tidak hanya itu, banyak pula pengunjung yang menyempatkan diri menikmati guyuran air terjun. Di samping itu, di lokasi ketiga terdapat air terjun kecil yang tersembunyi di rerimbunan pohon-pohon besar. Tidak terlihat memang dan hanya ada jalan setapak di pinggir sungai, terlihat cukup mengerikan.

Konon, ada tiga bidadari yang mandi setiap malam di tiga lokasi sungai tersebut. Itu mengapa dikenal dengan Curug Bidadari. Keindahan alam yang masih asri ini memang menciptakan pengalaman trip menakjubkan. Ketakutan untuk sampai ke lokasi terbayar dengan keindahan tiga lokasi berbeda di Curug tersebut.

Bisa dikatakan bahwa inilah oleh-oleh dari keberanian dan kenekatan kami. Bermodal tekad, kami mengubah tujuan trip utama. Aku bersama empat sahabatku dan tambahan dua teman baru dengan tiga motor menyusuri jalanan pedesaan. Melewati jalan yang naik turun dan tikungan, menyusuri aspal rusak dan jalan berbatu, sampai harus menahan napas ketika melewati jalan yang kanan kirinya jurang.

Dari Pekalongan sampai Kajen kami masih mantap dengan tujuan kami ke Rumah Pohon di kota Batang. Setiap kami trip, pertigaan atau perempatan selalu saja membingungkan. Perdebatan mulut perempuan di atas motor masing-masing sudah menjadi hal biasa. Kali ini, di pertigaan sebelum memasuki kota Batang, sama sekali tidak perdebatan karena perbedaan pendapat. Papan kayu petunjuk arah yang tertulis ‘Curug Bidadari’ terdengar masih awam bagi kami. Tak ada basa-basi, kami pun banting setir dan menyusuri petunjuk tersebut menuju Desa Purbo Jolotigo.

Dokumentasi Pribadi

Tidak tahu pastinya berapa kilometer yang kami tempuh. Tiket untuk satu orang yaitu 5 ribu rupiah, sedangkan motor 2 ribu rupiah. Perjalanan belum sampai di sini. Kami perlu berjuang melewati jalan berbatu seperti di tengah hutan. Aku melihat bagaimana berada di puncak, tentu saja seperti sedang naik gunung. Keindahannya tampak jelas ketika melewati jalan yang sepertinya belum banyak dilewati. Perjuangan berlanjut untuk menuruni jalanan setapak dengan tangga berbatu.

Semangatku kembali memuncak ketika kanan kiriku ternyata kebun kopi. Aku berkhayal seperti sedang melakukan singel origin trip. Menyusuri kebun kopi untuk mencari kopi kualitas baik atau sekadar mempelajari bagaimana penanaman kopi–This is my imagination only–. Sayang sekali, kebun kopi tersebut tidak terawat.

Bebatuan besar dan jembatan kayu untuk menyeberang ke seberang sungai menjadi objek foto kami. Tiga lokasi ini tampak berbeda, sehingga kami bisa mendapatkan view background yang berbeda. Semua kelelahan di perjalanan akan terbayar di sini, dimana kami bisa menikmati kebesaran Tuhan dari semesta ciptaan-Nya ini. Trip kami kali ini juga menambah cerita kenangan dengan momen hujan yang mengguyur di perjalanan. Hujan menjadi topik keseruan kami setelah menikmati perjuangan dan keindahan Curug Bidadari.

Kecantikan Curug Bidadari untuk setiap sisi tidak kalah dengan tempat wisata lainnya. Meskipun tergolong baru ditemukan, tetapi mampu menyihir pengunjung untuk datang kembali. Dari tiga lokasi yang dimiliki Curug Bidadari ini menjadi keunikan dari destinasi alam. Setiap sisi lokasi juga cocok menjadi backround foto atau untuk mendapatkan foto landscape dengan view pegunungan atau hutan. Tak perlu mencari tempat wisata yang terkenal. Banyak wisata-wisata di daerah terpencil yang memiliki pemandangan menakjubkan dan cerita unik. Tidak dipungkiri, bahwa daerah-daerah kecil di Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata. Melalui pengelolaan yang baik, Curug Bidadari akan menjadi aset wisata untuk kota Pekalongan.[]Prav

baca juga: Curug Bengkawah, Kekayaan Alam yang Terembunyi di Pemalang

 

 

 

Prajna Vita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *